Anugerah
~ Hidup adalah Anugerah sudah semestinya kita selalu bersyukur atas hari - hari yang kita lewati ..karena waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali dan yang akan datang menjadi sebuah masa depan ~
Selasa, 05 November 2013
"WUKU"
SEJARAH WUKU KELAHIRAN
Pawukon adalah ilmu tentang wuku yang bersifat baku berdasarkan buku babon yang ada. Tak berbeda dengan metoda hitungan astrologi pada umumnya, wuku ini membagi hari kelahiran seseorang berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran. Hanya saja pawukon mendasarkan perhitungannya menurut kalender Jawa. Wuku dalam bahasa Jawa kuno artinya pekan atau seminggu. 1 wuku artinya 7 hari.
Karya Pawukon bisa disejajarkan dengan zodiak Barat maupun Cina yang sudah dikenal luas. Cap Ji Shio terbagi atas 12 macam shio dengan pergantian tiap tahun. Satu periode shio diawali dari tahun pertama yaitu Tahun Tikus yang kemudian berakhir pada tahun keduabelas yakni Tahun Babi. Sedangkan horoskop Barat terbagi atas 12 bintang, pergantiannya tiap bulan, diawali dengan bintang Capricornus dan diakhiri oleh Sagitarius.
Sementara itu Pawukon terbagi atas 30 macam wuku yang pergantiannya berlaku setiap minggu. Perhitungannya mulai dari hari Minggu sampai dengan Sabtu. Satu periode Pawukon diawali pada minggu pertama setiap tahun dengan Wuku Shinta, yang kemudian diakhiri pada minggu ketigapuluh dengan Wuku Watugunung. Urutan dari ke-30 wuku tersebut adalah; Shinta, Landhep, Wukir, Kurantil, Tala, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Mrakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dhukut, Watugunung.
Setiap wuku memayungi kelahiran (manusia) dalam waktu satu pekan atau tujuh hari. Perhitungan harinya pun disesuaikan dengan pasaran (pon, wage, kliwon, legi, pahing).
Dibandingkan dengan horoskop versi lain, Pawukon memiliki kelebihan. Selain memberi gambaran secara umum untuk mengetahui kondisi fisik, karakter, atau watak seseorang, setiap wuku juga mampu menemukan jenis naas (pengapesan) atau pantangan yang harus dihindari serta proyeksi “nasib” seseorang di masa datang.
Realitanya kekayaan budaya jawa yg satu ini nyaris hilang tergerus jaman, Apalagi nilai modernitas yang telanjur diserap kalangan muda sering membuat mereka semakin lupa dari akar tradisi leluhur. Hanya lantaran gengsi, semua hal yang berbau tradisional dijauhi karena dianggap ndeso dan klenik. Padahal ketika dihadapkan pada suatu kenyataan hidup yang tidak menenteramkan, diam-diam mereka mencari pegangan psikologis. Bagaimanapun juga orang Jawa yang pada dasarnya berakar pada budaya agraris-mistis, termasuk mereka yang sudah hidup di kota-kota besar, akhirnya berpaling juga mengikuti naluri tradisionalnya.
Terbukti, masih banyak orang yang meyakini primbon dan tetap mempertimbangkan petungan Jawa kalau ingin menentukan tanggal perkawinan, pindah rumah, memulai kegiatan bisnis, atau menjalani ritus, sejak kehamilan sampai kelahiran seorang bayi, atau bahkan dalam memilih nama.
Untunglah masih ada figur seperti KRHT Darmodipuro, lelaki kelahiran Solo, 15 September 1937, seorang dari sangat sedikit pakar Kejawen yang tak lekang dimakan derasnya arus zaman. Kesetiaannya dalam menggeluti produk budaya Kejawen menggugah kesadaran masyarakat Jawa akan keunggulan dan nilai luhur Pawukon. Di samping tugasnya sebagai kepala museum Radyapustaka memungkinkannya mengeksplorasi secara otodidak berbagai sumber kuno tentang kebudayaan Jawa di museum tersebut, kepakarannya mengenai pawukon dan primbon didapatnya dari guru-gurunya para budayawan Jawa yang sudah mendiang seperti R. Tanoyo, KRT Ronggowarsito, dan RNg. Sastrosayono.
Jika dirunut kebelakang, belum diketahui jelas siapa penemu "Pakuwon ", Mitos menceritakan bahwa lahirnya Pawukon diilhami kisah Raja Watugunung, cerita rakyat zaman dulu, yang mengisahkan cinta anak lelaki terhadap ibunya sendiri seperti Oedipus dari Yunani. Nama anak-anak yang lahir dari hubungan terlarang inilah yang menandai nama wuku. Ada pun urutan wuku itu disesuaikan dengan janji Dewa kepada Watugunung untuk mengangkat semua anggota keluarganya ke kayangan. Untuk mendapat jaminan agar semua diangkat ke kayangan, Watugunung memilih menunggui anggota keluarganya dulu satu persatu diangkat ke kayangan, sementara dirinya sendiri memilih yang paling akhir. Itulah sebabnya Wuku Watugunung berada di urutan terakhir.
Sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan sudah selayaknya kita lestarikan peninggalan nenek moyang kita agar tak hilang begitu saja tergerus zaman dan membiarkannya punah oleh waktu, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.
-MS-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar