Cinta
Sebelum Atau Sesudah Kawin?
oleh: A. DAMHOERI
CINTA
sudah ada di dunia sejak Nabi Adam dan Hawa. Cinta mengakibatkan berbagai-bagai
hal atas manusia. Perasaan cemburu juga adalah disebabkan cinta.
Kuatir si wanita menumpahkan kasih
sayangnya kepada seorang laki-laki lain timbullah rasa cemburu si lelaki. Juga
sebaliknya, sehingga ada orang yang mengatakan rasa cemburu disebabkan oleh
rasa cinta baik pada wanita ataupun para pria. Tetapi kalau kecemburuan sudah
berlebihan akan bisa pula menimbulkan ekses-ekses dalam rumah tangga, yang tak
dikehendaki.
Konon
kabarnya perasaan cemburu itu sudah ada juga pada nenek segala manusia yaitu
Hawa. Padahal tak ada seorangpun wanita lain yang ada pada jaman itu di atas
dunia ini. Tetapi Hawa mengetahui bahwa dia diciptakan Tuhan dari sebuah tulang
rusuk Nabi Adam. Maka pada suatu malam entah bagaimana timbul saja rasa
kecemburuan Hawa kepada suaminya, Adam. Ketika Adam sedang tidur nyenyak,
bangkitlah Hawa perlahan-lahan. Ia segera menghitung tulang rusuk Adam, apakah
sudah kurang pula sebuah lagi. Sebab dimana tahu Tuhan sudah menciptakan seorang
wanita lagi untuk mendampingi Adam. “Tuu, ….. wa, …….. ga, ….” berulang-ulang
Hawa menghitung tulang rusuk Nabi Adam. Ternyata masih komplit. Barulah Hawa
merasa puas dan kembali merebahkan diri disamping suaminya.
Itu hanya sebuah dongeng. Tetapi
dalam zaman sekarang di mana ada ribuan wanita-wanita ayu dan ribuan lelaki
ganteng, rasa kecemburuan pada laki-laki dan perempuan bisa saja terjadi.
Apalagi kalau si suami seorang yang berduit, dan punya mata keranjang, rasa
cemburu bisa saja berkobar dalam dada seorang istri. Begitu pula sebaliknya.
Tetapi pada suatu zaman di benua
Eropa, perasaan cemburu itu sangat sekali hebatnya. Seorang laki-laki yang
hendak meninggalkan istrinya di rumah selama ia melakukan perjalanan tak merasa
senang hatinya. Ia selalu menaruh perasaan cemburu yang berlebih-lebihan. Dan
rasa cemburu itu. Laki-laki itu lalu membuat sejenis tali pinggang yang terbuat
dari besi tipis yang ringan. Tali pinggang itu dipasangkannya kepada isterinya
sewaktu ia akan berangkat lalu dikunci dan anak kuncinya dibawanya sendiri.
Dengan alat-alat yang ada pada tali pinggang itu si istri hanya bisa buang air
seni saja sedang berbuat pekerjaan lain tak sanggup. Kecuali kalau ia ada mempunyai anak kunci duplikat atau anak
kunci palsu.
Bagi pria tak ada kecualinya.
Seorang wanita bangsawan yang mempunyai seorang gigolo tak merasa senang,
kuatir kalau lelaki itu akan mengadakan hubungan pula dengan wanita lain.
Diciptakan pula tali pinggang untuk si prianya. Tak bisa leluasa lagi membuat
hubungan dengan seorang wanita lain.
Dalam museum di Paris masih dapat
dilihat tali pinggang yang dipergunakan pada zaman itu.
Tetapi
perasaan cemburu dan perasaan lain-lain mungkin tidak ada kalau antara kedua
belah pihak dijalin oleh rasa “cinta” yang mendalam. Dengan rasa cinta ini tak
ada lagi keragu-raguan antara kedua belah pihak djalin oleh rasa “cinta” yang
mendalam. Dengan rasa cinta ini tak ada lagi yang bisa menarik perhatiannya,
demikian pula sebaliknya. Jadi haruskah ada perasaan cinta timbal balik antara sepasang
suami istri? Ya, tentu harus ada. Kalau tak ada tali halus yang memperhubungkan
mereka yang bernama tali “cinta” itu maka seorang istri bagi suaminya tak lebih
dari sejenis makhluk tempat ia menumpaskan kehendak biologisnya belaka seperti
kehendak seekor ayam jantan kepada betinanya. Tetapi hubungan antara manusia
yang lebih mulia dari hewan harus mempunyai rasa cinta yang tak padam-padam
sejak mulai bersanding di pelaminan sampai mereka menjadi tua bangka.
Apakah
cinta itu sebetulnya? Ucapan pernyataan cinta seorang suami kepada istrinya
seribu kali dalam sehari semalam itukah pernyataan atau manifestasi sebuah
cinta?
“O,
aku sangat cinta padamu sayang, apa saja kehendakmu akan saya
belikan…dllsb.nya.”
“Dinda
juga sangat cinta kepada kandaku sayang dan janganlah kanda berniat hendak
berbini seorang lagi, dsbnya. Itukah gambaran sebuah cinta dalam sebuah rumah
tangga?
Cinta
itu bukan diucapkan dengan lidah dan bibir. Cinta yang diucapkan dengan lidah
dan bibir itu adalah cinta yang dipoles-poles, atau cinta imitasi, yang palsu.
Sebab lidah ini dalam sehari bisa bercabang-cabang sampai berkali-kali. Dan
bibir itu bisa pula disuruh mengucapkan apa saja yang disukai.
Tetapi
cinta sejati antara suami istri dilukiskan dengan perbuatan, dengan
gerak-gerik, dengan tingkah laku, pokoknya tidak dengan kata-kata. Dan bukan
saja kelihatan meladeni di atas ranjang tetapi adalah pada setiap pelosok rumah
tangga. Rumah tangga seorang istri yang selalu porak poranda, itu menandakan
bahwa ia tidak cinta kepada suaminya. Pakaiannya sering setiap hari tidak
beraturan sehingga tidak menarik itu juga tanda kekeringan cinta dalam rumah
tangga. Sepasang suami-istri yang munafik sama-sama tidak membuat ibadat, atau
hanya seorang saja, itu memberi tanda bahwa cinta-kasih terhadap Tuhan akan
memupuk kasih-cinta dalam sebuah rumah tangga.
Jadi
bercinta-cintaan adalah mudah, tetapi memupuk rasa cinta inilah yang sukar.
Memupuk cinta-kasih dalam rumah tangga mencakup semua masalah hidup dalam rumah
tangga itu, mulai hal yang kelihatannya sepele sampai kepada yang penting.
Suami istri yang tak bisa memupuk cinta itu, rumah tangga mereka sudah
memperlihatkan lampu merah. Tanda mara bahaya. Dan kalau tidak lekas dapat
pertolongan rumah tangga itu bisa berantakan. Bagaimana harus memupuk cinta-kasih
itu sangat luas dan banyak sekali ragamnya. Sebab pupuknya bukanlah pupuk yang
dihasilkan oleh Pabrik Pusri di Palembang tetapi adalah yang diciptakan oleh
rasa kesadaran dalam diri seseorang. Bahagialah sebuah rumah tangga yang secara
kontinu dapat memupuk rasa cinta timbal balik antara kedua mereka. Mereka harus
mengetahui antara hak dan kewajiban kedua belah pihak, baik ditinjau dari segi
Agama, segi ekonomi, segi seks, segi kehidupan dan lain-lain lagi. Bila seorang
suami hanya menuntut haknya saja tetapi tidak memenuhi kewajibannya akan
berantakanlah rumah tangga itu. Demikianlah pula sebaliknya.
Dan
kapan cinta sepasang suami-istri itu harus ditanamkan? Sebelum kawinkah atau
sesudah kawin?
Sebagian
pihak berpendapat bahwa cinta itu harus ada dan dikobar-kobarkan sebelum kawin.
Sebelum kawin mereka diikat oleh tali percintaan dan sampai menjadi tali
pertunangan dan barulah perkawinan dilangsungkan. Sepasang muda mudi yang
katanya saling cinta dan sudah berjanji akan hidup berumah tangga, kelihatannya
pasangan itu amat harmonis sekali. Sebab mereka berpendapat bahwa sebelum kawin
mereka harus kenal calonnya sebaik-baiknya, calon istri dan calon suami. Tetapi
bagaimana akan mengenal lebih jauh sebab sudah terang dalam periode itu
masing-masing pihak hanya akan menonjolkan pekertinya yang baik-baik saja. Dan
kalau sampai mereka kawin akan kelihatanlah apa yang selama ini ditutup-tutupi,
baik aib lahir atau aib batin. Tahu-tahunya istri yang didapat dengan cinta itu
tak bisa masak. Suka pengotor, suka ngeluyur dan sebagainya. Begitu pula dari
pihak laki-laki. Dan mereka dari sehari ke sehari mulai bertambah renggang. Dan
cinta mereka yang pada mulanya hangat sepanas 1000 derajat Celcius itu lama-lama
menjadi dingin. Dan tali cinta yang pada mulanya kokoh sebagai rantai waja itu
akhirnya retak dan putus.
Bagaimana
akan menanamkan rasa cinta jika perhubungan masih dalam batas-batas tertentu.
Mau bertindak lebih jauh didahulukan bajak dari jawi, si lelaki akan tahu moral
calon istrinya rapuh. Dan ini sudah melanggar pula hukum Agama dan norma-norma
kesusilaan. Andai kata berbuah, calon istri menjadi hamil, ada harapan si
lelaki yang sudah mencicip itu akan terbang jauh dan tak kembali lagi. Resiko
ditanggung sendiri oleh perempuan. Sebab kemudian akan ternyata bahwa cinta itu
bukannya cinta sejati tetapi hanyalah cinta hawa nafsu.
Banyak
pasangan yang menaiki tangga pelaminan yang kata mereka mempunyai cinta murni
timbal balik tetapi dalam tempoh tak sampai setahun rumah tangga mereka sudah
bobrok dan hancur. Itu disebabkan karena tak tahu cara pemupukan rasa cinta,
-kalau memang ada,- dalam rumah tangga yang mereka bina. Penyebab utama
kegagalan itu disebabkan karena sebelum memasuki dunia perkawinan keduanya buta
dengan seks. Kurang dalam ilmu berumah tangga.hubungan seks hanya didasarkan
atas naluri saja, tak ubahnya dengan hewan. Di sini sering terbentur sebuah
bahtera rumah tangga.
Dan
pada cinta sesudah kawin pula, banyak terjadi pasangan suami-istri yang kenal
di pelaminan saja bahkan ada yang hanya dalam ranjang pengantin saja. Tetapi
perkawinan mereka kekal dan dipenuhi rasa cinta yang sewajarnya ada dalam
setiap pasangan suami istri. Sebab perkenalan mereka kian hari dapat dipupuk
mereka dengan tak usah ragu-ragu mengenal lahir batin keadaan diri mereka
masing-masing. Sebab seorang wanita kadang-kadang tidak menarik hanya pada
kecantikannya saja, pada body-nya saja tetapi juga pada keadaan batiniahnya.
Dan daya tarik inilah yang lebih mantap, lebih mesra, lebih berkesan, lebih
hebat dan merupakan hubungan yang kuat antara mereka. Mereka bisa memadu
cintanya sebab Jawi memang sudah di muka bajak. Apakah bajaknya baik, atau
apakah jawinya bandel sudah dapat diketahui. Dan di mana ada kesalahan bisa diperbaiki.
Kita
pernah melihat seorang istri yang hanya cinta sesudah kawin sudah menjadi
kakek-kakek dan nenek-nenek, keduanya
masih saling cinta. Sebab ada daya tarik halus murni yang ada dalam diri
mereka masing-masing. Pernah ada dua pasang manusia. Yang satu sebelum mereka
kawin katanya sudah saling cinta. Tetapi perkawinan mereka ambruk pada rahun
yang kedua. Dan pasangan lainnya tak pernah saling kenal, tetapi mereka sempat
merayakan hari ulang tahun perkawinannya yang ke-25 dengan banyak anak dan banyak
cucu. Cinta mereka dipupuk kemudian dalam rumah tangga mereka.
Sebagai
sudah dikatakan pengucapan atau menifestasi cinta itu bukanlah diucapkan dengan
kata-kata. Tetapi adalah dilukiskan dengan perbuatan, tingkah laku, gerak
gerik, dan segala kegiatan dalam meladeni kedua belah pihak. Untuk merasakan
cinta yang asli tidak saja harus dipergunakan panca indera yang keenam. Melihat
istri tidak saja dengan mata kepala tetapi juga dengan mata hati. Mengucapkan
cinta tidak dengan lidah dalam mulut tetapi lebih dengan lidah dalam hati.
Kalau tak mampu maka cinta yang ditemui bukanlah cinta yang murni tetapi
barangkali cinta monyet, atau cinta nafsu, pokoknya yang bukan tergolong dalam
cinta yang suci.
Dan
mana yang akan dipakai, terserah!!
Referensi :
Majalah Nasehat Perkawinan Eds.Februari tahun 1976
Sumber : lilinterachi.multiply.com