|
|
Oleh : Junan Helmy Nasution
Seorang suami muda yang baru 1 bulan nikah, pulang dari perjalanan jauh tanpa membawa apa-apa. Ia meninggalkan istrinya selama 3 hari, naas baginya, piutang yang ditagih tidak dibayar orang, uang yang dibawa habis pula, sedang janji semula, si istri akan dibawakan oleh-oleh.
Kian dekat ke rumah, kian kusut masai hati dan pikirannya, beberapa bayangan jahat mengganggunya: "baru sekali meninggalkan istri sudah gagal, kau akan dituduhnya penipu, cintamu palsu, pulang tak membawa silua, mertuapun akan menuduhmu suami sialan, lebih baik jangan pulang dulu, usahakan cari sesuatu..., pokoknya pulang membawa oleh-oleh."
Tiba-tiba suami muda itu bertemu dengan seorang pedagang yang sedang tertidur di bawah sebuah pohon rindang, barang dagangannya terletak di dekatnya, suasana di situ sepi sunyi, tak seorangpun yang lalu-lalang.
Suara itu berbunyilah lagi di hatinya: "Nah, inilah kesempatan bagimu, ambillah barang2 itu, istrimu pasti senang sekali menerimanya, cintanya akan bertambah-tambah kepadamu, dan mertuamu akan hormat kepadamu."
Karena cinta dan rindunya yang bersangatan kepada istrinya dan perasaan takut disambut oleh mertua sebelah mata karena pulang dengan tangan melenggang saja, maka dengan keputusan hati yang tetap, si suami muda ini mengangkat bungkusan si pedagang, lantas membawanya kabur secepat-cepatnya tanpa memikirkan akibatnya bagi si pemiliknya dan bagi dirinya sendiri.
Di suatu tempat sunyi, ia membuka bungkusan itu, alangkah mahal-mahal isinya, di sana ada beberapa pesalin perhiasan emas, pakaian bahan sutera Cina, kain sarung wanita yang mahal bersulam benang emas. Maka dengan riang pun ia menuju rumahnya.
Tetapi, alangkah terperanjatnya suami muda ini, setiba di rumah, ia melihat orang ramai, dan tatkala ia masuk bergegas-gegas, ia menjumpai istrinya, dalam sakit keras, badannya panas, napasnya sesak, badannya kaku lesu, dan kedua mertuanya menangis di dekatnya. Istrinya yang dicintainya itu menderita serangan "Rihulahmar", tak sadarkan diri.
Maka diusahakanlah tabib dan dukun ke hilir dan ke hulu, semua famili dikerahkan mengusahakan obat dan mencari orang-orang yang pandai mengobati.
Kini bertukarlah problem bagi si anak muda, suami muda ini, karena bukan lagi oleh-oleh silua, bawaan ataupun buah tangan yang jadi masalah, tetapi yang diperlukan ialah tabib, dukun dan obat dan terakhir ialah kesembuhan istrinya. Baik si istri maupun mertua sama sekali tidak menoleh kepada "bungkusan yang dibawanya" dengan sebelah matapun. Oleh-oleh dan bawaan itu kini tidak mempunya harga bagi mereka.
Tengah malam, keluarga yang mencari dukun, membawa seorang Gujerat yang ahli mengobati segala penyakit "bikinan orang", kesurupan, tenung, sihir dan lain-lainnya. Tukang-tukang obat atau tabib yang lain yang sudah dipanggil satupun tak dapat menyembuhkan penyakit aneh itu. Maka berkatalah Tabib Gujerat ini, bahwa Insya Allah penyakit wanita yang parah ini dapat sembuh secepatnya, asalkan kepadanya diberikan 3 pesalin perhiasan wanita, 3 pesalin kain bahan dari sutra Cina, dan 3 kain sarung bersulam keemasan. Walaupun dengan berat hati dan malu, si suami muda terpaksalah menyerahkan semua isi bungkusan yang dicurinya kepada tabib itu, dan dengan mudah pula, menjelang subuh, istri yang dikasihinya siuman dan sembuh. Si Tabib pulang membawa haknya tanpa menceritakan bahwa itu adalah bekas miliknya, si suami muda pun tidak menceritakan bahwa barang-barang itu dicuri olehnya dan kini pulang kepada yang empunya. Mungkin yang tahu hanyalah mereka berdua dan kemudian Tuhan.
Pada suatu hari si istri yang sudah sembuh itu bercerita kepada suaminya. "Kakanda! Sudikah kakanda menghiasi cinta kasih kita dengan "iffah"? Supaya kita hidup tenang tentram? Menyahut sang suami muda: Apakah "iffah" itu? Si istri menjawab "Jangan bawa dusta, jangan bawa barang haram ke dalam rumah, karena barang haram membawa penyakit." Mendengar kata-kata istrinya ini, si suami berubah mukanya menjadi pucat. Hatinya berbisik "Mungkinkah istriku tahu bahwa aku mencuri?" Kemudian ia memperbaiki sikapnya seolah-olah menutupi kecemasannya dengan berpura-pura mencium istrinya.
Si istri menyambung kemudian: "Adinda telah berdoa kepada Tuhan tatkala menikah dengan kakanda: Ya Allah, berilah kami rezeki yang halal, yang menimbulkan kepada kami kesehatan, ketenangan dan kesyukuran, jangan berikan kepada kami rezeki yang haram yang membawa penyakit, kegundahan dan keangkuhan."
Si suami menjadi pendengar yang sangat khidmat.
Biarlah kita asyiki hidup kasih-sayang dengan tenang dan bahagia, sehat, segar-bugar dan senyum di bawah ridla Tuhan kita, dari hasil kerja usaha ikhtiar kita sendiri, Tuhan Maha Kaya. Jangan kita rusakkan restu rahmat Allah dengan selingkuh, tipu, curang dan apalagi dengan mengecewakan orang lain."
Restu ridla Allah adalah lebih mahal dari segala materi.
Orang-orang Iffah itu tersenyum dalam kekurangannya dengan penuh harap, tekun berdoa serta bekerja keras, namun tidak mengeluh dan senantiasa memelihara kehormatannya di muka Allah dan di muka manusia. Orang-orang kaya yang bersifat iffah adalah hartawan-hartawan ahli sorga.
Kisah ini satu dari 1000 cerita tentang iffah, yakni sifat tidak berhasrat mengambil milik orang lain, merugikan orang lain, mengemis dan merengek-rengek, tetapi percaya penuh akan rahmat nikmat Allah yang tiada terbatas.
Carilah ia si "Iffah" itu, ia berada di dalam jiwa seorang wanita yang setia kepada Allah dan iapun berada di dalam jiwa seorang lelaki yang taat setia kepada Allah.
Mereka...tak
pernah gundah gulana, tak pernah cemas waswas, senantiasa senyum, riang,
bersih, suci, dan halal...., umur mereka panjang-panjang, badan mereka
sehat-sehat, keluarga dan sahabat mereka setia-setia, dan hati serta jiwa
mereka tenang damai dan tentram...
Sumber : lilinterachi.multiply.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar