Anugerah

~ Hidup adalah Anugerah sudah semestinya kita selalu bersyukur atas hari - hari yang kita lewati ..karena waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali dan yang akan datang menjadi sebuah masa depan ~

Senin, 16 Juli 2012

" Cinta Sebelum Atau Sesudah Kawin? "



Cinta Sebelum Atau Sesudah Kawin? 

oleh: A. DAMHOERI

 CINTA sudah ada di dunia sejak Nabi Adam dan Hawa. Cinta mengakibatkan berbagai-bagai hal atas manusia.  Perasaan cemburu juga adalah disebabkan cinta.  Kuatir si wanita menumpahkan kasih sayangnya kepada seorang laki-laki lain timbullah rasa cemburu si lelaki. Juga sebaliknya, sehingga ada orang yang mengatakan rasa cemburu disebabkan oleh rasa cinta baik pada wanita ataupun para pria. Tetapi kalau kecemburuan sudah berlebihan akan bisa pula menimbulkan ekses-ekses dalam rumah tangga, yang tak dikehendaki.
Konon kabarnya perasaan cemburu itu sudah ada juga pada nenek segala manusia yaitu Hawa. Padahal tak ada seorangpun wanita lain yang ada pada jaman itu di atas dunia ini. Tetapi Hawa mengetahui bahwa dia diciptakan Tuhan dari sebuah tulang rusuk Nabi Adam. Maka pada suatu malam entah bagaimana timbul saja rasa kecemburuan Hawa kepada suaminya, Adam. Ketika Adam sedang tidur nyenyak, bangkitlah Hawa perlahan-lahan. Ia segera menghitung tulang rusuk Adam, apakah sudah kurang pula sebuah lagi. Sebab dimana tahu Tuhan sudah menciptakan seorang wanita lagi untuk mendampingi Adam. “Tuu, ….. wa, …….. ga, ….” berulang-ulang Hawa menghitung tulang rusuk Nabi Adam. Ternyata masih komplit. Barulah Hawa merasa puas dan kembali merebahkan diri disamping suaminya.
            Itu hanya sebuah dongeng. Tetapi dalam zaman sekarang di mana ada ribuan wanita-wanita ayu dan ribuan lelaki ganteng, rasa kecemburuan pada laki-laki dan perempuan bisa saja terjadi. Apalagi kalau si suami seorang yang berduit, dan punya mata keranjang, rasa cemburu bisa saja berkobar dalam dada seorang istri. Begitu pula sebaliknya.
            Tetapi pada suatu zaman di benua Eropa, perasaan cemburu itu sangat sekali hebatnya. Seorang laki-laki yang hendak meninggalkan istrinya di rumah selama ia melakukan perjalanan tak merasa senang hatinya. Ia selalu menaruh perasaan cemburu yang berlebih-lebihan. Dan rasa cemburu itu. Laki-laki itu lalu membuat sejenis tali pinggang yang terbuat dari besi tipis yang ringan. Tali pinggang itu dipasangkannya kepada isterinya sewaktu ia akan berangkat lalu dikunci dan anak kuncinya dibawanya sendiri. Dengan alat-alat yang ada pada tali pinggang itu si istri hanya bisa buang air seni saja sedang berbuat pekerjaan lain tak sanggup. Kecuali kalau ia  ada mempunyai anak kunci duplikat atau anak kunci palsu.
            Bagi pria tak ada kecualinya. Seorang wanita bangsawan yang mempunyai seorang gigolo tak merasa senang, kuatir kalau lelaki itu akan mengadakan hubungan pula dengan wanita lain. Diciptakan pula tali pinggang untuk si prianya. Tak bisa leluasa lagi membuat hubungan dengan seorang wanita lain.
            Dalam museum di Paris masih dapat dilihat tali pinggang yang dipergunakan pada zaman itu.
Tetapi perasaan cemburu dan perasaan lain-lain mungkin tidak ada kalau antara kedua belah pihak dijalin oleh rasa “cinta” yang mendalam. Dengan rasa cinta ini tak ada lagi keragu-raguan antara kedua belah pihak djalin oleh rasa “cinta” yang mendalam. Dengan rasa cinta ini tak ada lagi yang bisa menarik perhatiannya, demikian pula sebaliknya. Jadi haruskah ada perasaan cinta timbal balik antara sepasang suami istri? Ya, tentu harus ada. Kalau tak ada tali halus yang memperhubungkan mereka yang bernama tali “cinta” itu maka seorang istri bagi suaminya tak lebih dari sejenis makhluk tempat ia menumpaskan kehendak biologisnya belaka seperti kehendak seekor ayam jantan kepada betinanya. Tetapi hubungan antara manusia yang lebih mulia dari hewan harus mempunyai rasa cinta yang tak padam-padam sejak mulai bersanding di pelaminan sampai mereka menjadi tua bangka.
Apakah cinta itu sebetulnya? Ucapan pernyataan cinta seorang suami kepada istrinya seribu kali dalam sehari semalam itukah pernyataan atau manifestasi sebuah cinta?
“O, aku sangat cinta padamu sayang, apa saja kehendakmu akan saya belikan…dllsb.nya.”
“Dinda juga sangat cinta kepada kandaku sayang dan janganlah kanda berniat hendak berbini seorang lagi, dsbnya. Itukah gambaran sebuah cinta dalam sebuah rumah tangga?
Cinta itu bukan diucapkan dengan lidah dan bibir. Cinta yang diucapkan dengan lidah dan bibir itu adalah cinta yang dipoles-poles, atau cinta imitasi, yang palsu. Sebab lidah ini dalam sehari bisa bercabang-cabang sampai berkali-kali. Dan bibir itu bisa pula disuruh mengucapkan apa saja yang disukai.
Tetapi cinta sejati antara suami istri dilukiskan dengan perbuatan, dengan gerak-gerik, dengan tingkah laku, pokoknya tidak dengan kata-kata. Dan bukan saja kelihatan meladeni di atas ranjang tetapi adalah pada setiap pelosok rumah tangga. Rumah tangga seorang istri yang selalu porak poranda, itu menandakan bahwa ia tidak cinta kepada suaminya. Pakaiannya sering setiap hari tidak beraturan sehingga tidak menarik itu juga tanda kekeringan cinta dalam rumah tangga. Sepasang suami-istri yang munafik sama-sama tidak membuat ibadat, atau hanya seorang saja, itu memberi tanda bahwa cinta-kasih terhadap Tuhan akan memupuk kasih-cinta dalam sebuah rumah tangga.
Jadi bercinta-cintaan adalah mudah, tetapi memupuk rasa cinta inilah yang sukar. Memupuk cinta-kasih dalam rumah tangga mencakup semua masalah hidup dalam rumah tangga itu, mulai hal yang kelihatannya sepele sampai kepada yang penting. Suami istri yang tak bisa memupuk cinta itu, rumah tangga mereka sudah memperlihatkan lampu merah. Tanda mara bahaya. Dan kalau tidak lekas dapat pertolongan rumah tangga itu bisa berantakan. Bagaimana harus memupuk cinta-kasih itu sangat luas dan banyak sekali ragamnya. Sebab pupuknya bukanlah pupuk yang dihasilkan oleh Pabrik Pusri di Palembang tetapi adalah yang diciptakan oleh rasa kesadaran dalam diri seseorang. Bahagialah sebuah rumah tangga yang secara kontinu dapat memupuk rasa cinta timbal balik antara kedua mereka. Mereka harus mengetahui antara hak dan kewajiban kedua belah pihak, baik ditinjau dari segi Agama, segi ekonomi, segi seks, segi kehidupan dan lain-lain lagi. Bila seorang suami hanya menuntut haknya saja tetapi tidak memenuhi kewajibannya akan berantakanlah rumah tangga itu. Demikianlah pula sebaliknya.
Dan kapan cinta sepasang suami-istri itu harus ditanamkan? Sebelum kawinkah atau sesudah kawin?
Sebagian pihak berpendapat bahwa cinta itu harus ada dan dikobar-kobarkan sebelum kawin. Sebelum kawin mereka diikat oleh tali percintaan dan sampai menjadi tali pertunangan dan barulah perkawinan dilangsungkan. Sepasang muda mudi yang katanya saling cinta dan sudah berjanji akan hidup berumah tangga, kelihatannya pasangan itu amat harmonis sekali. Sebab mereka berpendapat bahwa sebelum kawin mereka harus kenal calonnya sebaik-baiknya, calon istri dan calon suami. Tetapi bagaimana akan mengenal lebih jauh sebab sudah terang dalam periode itu masing-masing pihak hanya akan menonjolkan pekertinya yang baik-baik saja. Dan kalau sampai mereka kawin akan kelihatanlah apa yang selama ini ditutup-tutupi, baik aib lahir atau aib batin. Tahu-tahunya istri yang didapat dengan cinta itu tak bisa masak. Suka pengotor, suka ngeluyur dan sebagainya. Begitu pula dari pihak laki-laki. Dan mereka dari sehari ke sehari mulai bertambah renggang. Dan cinta mereka yang pada mulanya hangat sepanas 1000 derajat Celcius itu lama-lama menjadi dingin. Dan tali cinta yang pada mulanya kokoh sebagai rantai waja itu akhirnya retak dan putus.
Bagaimana akan menanamkan rasa cinta jika perhubungan masih dalam batas-batas tertentu. Mau bertindak lebih jauh didahulukan bajak dari jawi, si lelaki akan tahu moral calon istrinya rapuh. Dan ini sudah melanggar pula hukum Agama dan norma-norma kesusilaan. Andai kata berbuah, calon istri menjadi hamil, ada harapan si lelaki yang sudah mencicip itu akan terbang jauh dan tak kembali lagi. Resiko ditanggung sendiri oleh perempuan. Sebab kemudian akan ternyata bahwa cinta itu bukannya cinta sejati tetapi hanyalah cinta hawa nafsu.
Banyak pasangan yang menaiki tangga pelaminan yang kata mereka mempunyai cinta murni timbal balik tetapi dalam tempoh tak sampai setahun rumah tangga mereka sudah bobrok dan hancur. Itu disebabkan karena tak tahu cara pemupukan rasa cinta, -kalau memang ada,- dalam rumah tangga yang mereka bina. Penyebab utama kegagalan itu disebabkan karena sebelum memasuki dunia perkawinan keduanya buta dengan seks. Kurang dalam ilmu berumah tangga.hubungan seks hanya didasarkan atas naluri saja, tak ubahnya dengan hewan. Di sini sering terbentur sebuah bahtera rumah tangga.
Dan pada cinta sesudah kawin pula, banyak terjadi pasangan suami-istri yang kenal di pelaminan saja bahkan ada yang hanya dalam ranjang pengantin saja. Tetapi perkawinan mereka kekal dan dipenuhi rasa cinta yang sewajarnya ada dalam setiap pasangan suami istri. Sebab perkenalan mereka kian hari dapat dipupuk mereka dengan tak usah ragu-ragu mengenal lahir batin keadaan diri mereka masing-masing. Sebab seorang wanita kadang-kadang tidak menarik hanya pada kecantikannya saja, pada body-nya saja tetapi juga pada keadaan batiniahnya. Dan daya tarik inilah yang lebih mantap, lebih mesra, lebih berkesan, lebih hebat dan merupakan hubungan yang kuat antara mereka. Mereka bisa memadu cintanya sebab Jawi memang sudah di muka bajak. Apakah bajaknya baik, atau apakah jawinya bandel sudah dapat diketahui. Dan di mana ada kesalahan bisa diperbaiki.
Kita pernah melihat seorang istri yang hanya cinta sesudah kawin sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, keduanya  masih saling cinta. Sebab ada daya tarik halus murni yang ada dalam diri mereka masing-masing. Pernah ada dua pasang manusia. Yang satu sebelum mereka kawin katanya sudah saling cinta. Tetapi perkawinan mereka ambruk pada rahun yang kedua. Dan pasangan lainnya tak pernah saling kenal, tetapi mereka sempat merayakan hari ulang tahun perkawinannya yang ke-25 dengan banyak anak dan banyak cucu. Cinta mereka dipupuk kemudian dalam rumah tangga mereka.
Sebagai sudah dikatakan pengucapan atau menifestasi cinta itu bukanlah diucapkan dengan kata-kata. Tetapi adalah dilukiskan dengan perbuatan, tingkah laku, gerak gerik, dan segala kegiatan dalam meladeni kedua belah pihak. Untuk merasakan cinta yang asli tidak saja harus dipergunakan panca indera yang keenam. Melihat istri tidak saja dengan mata kepala tetapi juga dengan mata hati. Mengucapkan cinta tidak dengan lidah dalam mulut tetapi lebih dengan lidah dalam hati. Kalau tak mampu maka cinta yang ditemui bukanlah cinta yang murni tetapi barangkali cinta monyet, atau cinta nafsu, pokoknya yang bukan tergolong dalam cinta yang suci.
Dan mana yang akan dipakai, terserah!!



Referensi :
Majalah  Nasehat Perkawinan Eds.Februari tahun 1976 
Sumber : lilinterachi.multiply.com


2 komentar:

  1. sepertinya ada yg perlu di edit :)
    nikah ato kawin? :)

    BalasHapus
  2. hmm ...msukan yg bgus ...enak dibaca nikah kali y nok .. ^_^ ..mksh masukannya

    BalasHapus