BUSHIDO
Kata bushido berasal
dari bushi 'prajurit' atau 'ksatria' dan dou 'jalan'.
Bushido dapat diartikan sebagai jalan hidup seorang prajurit /ksatria.
Bushido memiliki tujuh kode etik yaitu :
- Gi atau pengambilan keputusan berdasarkan kebenaran. Meskipun mati
dengan keputusan itu, maka matilah dengan gagah karena kematian itu
terhormat.
- Yu atau ' berani ' dan ' ksatria '.
- Jin atau ' murah hati ' dan 'mencintai sesama '.
- Re atau ' santun ' dan ' bertindak benar'.
- Makoto atau 'bersikap tulus tanpa pamrih'.
- Meiyo atau 'menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan'.
- Chugo atau 'mengabdi dengan loyal '.
Nilai
- nilai prinsipal itu terus ditanamkan dalam hati sehingga menjadi prinsip
hidup. Nilai ini berasal dari ajaran Budha tentang kepercayaan, tenang pada
nasib serta pasrah pada hal - hal yang tidak terelakkan. Selain itu Bushido
juga bersumber pada agama Shinto tentang nilai - nilai
kesetiaan pada kaisar / pemimpin dan menghormati arwah leluhur.
Nilai
Bushido berkembang pada era feodal Jepang, dimana golongan Samurai menempati posisi tertinggi dalam stratifikasi sosial dan
disegani oleh golongan lainnya. Nilai bushido berkembang sesuai dinamika
zamannya. Pada zaman pertengahan abad ke – 12 hingga abad ke – 15 bushido dimaknai
sebagai ‘ Ware Kyusen no michi ni tarei.
Ima no ya niha Uchikatsu wa Matte Kimitosu ‘ ( Jalan keprajuritan kita di
dunia saat ini ialah meraih kemenangan dalam pertarungan ). Dan filosofi dari
Bushido adalah ‘Meraih kemenangan dalam
suatu pertarungan adalah segalanya’.
Semangat
Bushido yang kental menjadi pedoman moral dan etika bangsa Jepang, sehingga
tidak heran jika nilai – nilai bushido
sangat terpatri di masyarakat. Secara garis besar terdapat tiga faktor yang menonjol dalam
budaya kerja Jepang, yaitu kepercayaan (trust
), disiplin dan kualitas. Tiga faktor ini berhasil menjadi penopang sukses
negeri Sakura. Ketiganya dilandasi
oleh dua semangat besar , yaitu kerja
keras (bushido ) dan harga diri (samurai ). Wajar kalau ada kegagalan ,
maka yang menanggung malu bukan organisasi / perusahaan , melainkan para
pekerja yang merasa kehilangan harga diri.
Semangat
seperti ini berhasil menghidupkan dan mengembangkan ekonomi dan industri Jepang dengan disiplin
tinggi , pekerja keras ,penuh tanggung jawab dan punya rasa malu bila melakukan
perbuatan yang merugikan. Semangat yang selalu terus hidup walaupun di zaman
Jepang modern seperti sekarang sudah tidak ada lagi kaum samurai .
