MIYAMOTO MUSASHI
Dalam sejarah Jepang
ada beberapa nama samurai hebat, salah satunya adalah sang legenda
Miyamoto Musashi, yang dilahirkan pada tahun 1584 dan meninggal pada usia 61 tahun pada tanggal
19 Mei 1645. Bagi masyarakat Jepang Musashi
adalah sosok mengagumkan karena memiliki
banyak kearifan khas samurai.
Hal luar biasa
menyangkut Miyamoto Musashi adalah fakta
bahwa ia tidak pernah memiliki guru –
terlepas dari kenyataan bahwa ayahnya,
Munisai adalah seorang samurai hebat yang mahir sejumlah jurus
pedang, juga guru bagi klan Shinmen dan
merupakan salah satu samurai utama di masanya.
Musashi terlahir dengan bakat samurai ahli dalam duel
satu lawan satu. Dimana musashi
muda merupakan seorang pengamat yang
tekun terhadap jurus bela diri sang
ayah. Kritikan musashi muda terhadap
cara penggunaan jitte –
sebuah pedang pendek yang biasa
digunakan samurai untuk menangkis
serangan pedang, membuat Munisai marah
dan melemparkan sebuah pisau kearah
Musashi dan membuatnya berlari meninggalakan
rumah ayahanya dan pergi ke kampung halaman ibunya. Disana musashi muda tinggal
bersama seorang pendeta yang memiliki hubungan sanak kerabat dengan sang ibu.
Tumbuh sebagai seorang remaja di
masanya, musashi menjalani hidup sebagai seorang petualang dari satu tempat ke
tempat lain dengan bekal ala kadarnya, mirip dengan seorang pendeta, ia hanya
mengandalkan kemurahan hati orang lain – masyarakat umum untuk mendapatkan
makanan dan tempat tinggal sementara sebagai imbalan dari pelajaran berperang
yang ia berikan. Musashi melakukan duel pertamanya ketika berusia tiga belas
tahun, di mana ia berhasil membunuh seorang shugyosha
hebat dan terampil bernama Kihei Arima dengan tongkat kayu.
Sejatinya Musashi adalah seorang
samurai yang tumbuh dengan cara yang berbeda dari teman – teman sezamannya,
dimana ia lebih suka menyendiri, menggunakan pakaian yang sederhana, tidak
membanggakan diri dan lebih memilih
bertanding di tempat yang terpencil daripada di hadapan banyak orang.
Di usia 29 tahun Musashi berhasil
mengalahkan dan membunuh lebih dari enam puluh orang musuh, yang pada akhirnya
memutuskan berganti haluan hidup dengan menjadi pelukis, ahli kaligrafi,
penyair , perancang taman dan ahli
membuat patung. Jiwa berpetualang yang besar membuat Musashi menjelajahi Jepang
dan ia pun terlibat banyak pertandingan. Akan tetapi Musashi tidak lagi
membunuh musuh – musuhnya dalam setiap duel yang ia lakukan, yang dilakukannya
adalah bertahan sekuat tenaga agar tidak terbunuh dan membuat musuh menyerah /
kelelahan hingga akhirnya mereka mengakui bahwa Musashi adalah seorang samurai
yang tak terkalahkan.
Di tahun 1637 Musashi bekerja untuk
pemerintahan shogunate Tokugawa,
dimana pada masa itu terjadi banyak pembantaian terhadap umat Kristiani Jepang
serta para ronin yang menjadi sekutu
mereka. Disini peram Musashi sebagai seorang konsultan strategi perang untuk
mengalahkan serta menangkap para pemberontak yang bersembunyi di dalam sebuah
kastil.
Sebelum pensiun Musashi menulis esensi
seni perang yang dimilikinya, dan pada bulan Februari 1640 ia memberikan sebuah
manuskrip setebal lima belas halaman berjudul The Thirthy-Five Articles of The Martial Arts kepada Tuan Tadatoshi
Hosokawa. Manuskrip ini kemudian terpapar menjadi The Book of Five Rings.
Di tahun 1643 Musashi mulai menetap di
sebuah gua di pinggiran kota Kumamoto, yang saat ini dikenal dengan Gua Reigan.
Disini ia sering melakukan meditasi dan menulis seni perang yang ia kuasai dan
kemampuannya untuk meraih semua kemenangannya. Musashi menetap di gua ini
dengan tujuan ingin meninggal disana tetapi oleh murid – muridnya Musashi
dibawa ke rumah salah seorang daimyo
di daerah terdekat, dan Sang Legenda tutup usia disana.
Ajarannya tentang peperangan dan
kesuksesan dalam setiap perjuangan menyimpan begitu banyak pelajaran bermakna
tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup dan meraih sebuah kesempurnaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar